Saturday, 4 July 2009

TIRED

I'm getting tired with all of this...
I'm getting sick of it...
Even 'give up' was passed through in my thought...
I don't want to give up...
I have to get what I want and all of my targets in this life...
There are lots of things that I have to pay back to God and all of people who gave me this hard and beautiful life...
I just want to make them proud...
Especially my parents...
I love you dad, mom...

Tuesday, 23 June 2009

KERIIIINGG !

Huhuhuhuhuhuhuhu....
Pengen nangis rasanya....

SAKIT PERUT!!!

dan sialnya,


AIR DI RUMAH HABIS!!!!


damnyouidiotstupidmoronneverbeenkickedrightonyourveryannoyinglooksofbutt!!!

gara-gara keran di kamar mandi pembantu jebol!
jadinya semaleman air ngalir ampe tandonnya kering....
huhuhuhuhuhu

mana udah dua hari belum disentuh air pula (baca: mandi)
jadi nyesel mengusung slogan hemat air kalo diejekin kagak pernah mandi...
sekarang malah kagak punya air di rumah...
hiks hiks hiks

I need a plumber right away, please....!

*mules stadium 4 mode: ON*

Monday, 22 June 2009

Pemuda Tampan VS Tetangga Menyebalkan

HAWANYA PEMBUNUHAN....

Grrr...
Guk...guk...
Rawr....!

Kayak gini ini yang bikin emosi jiwa...
Menusuk dari belakang
Kayak lagunya Mulan Jameela
Ditusuk dari belakang sama tetangga depan rumah sendiri...
Tante-tante gitu,
ngepasnya, emang tu tante-tante muda mirip ama Mulan Jameela!
Bedanya, kelakuan tu tante lebih mirip Mulan Jamiludin!
*sigh..*

BTW, ditusuk dari belakangnya nggak pake tongkat pramuka lho ya...
Itu makna kiasan, okay?

Jadi gini ceritanya...
Sore-sore habis aku pulang bikin tugas dari kosan temen, si mba asisten (baca: pembantu saya yang baik hati bernama Ika) tiba-tiba nyerocos ga jelas begitu aku nyampe rumah. Ika ini adalah asisten baru berumur 25 tahun setelah asisten sebelumnya menjadi alumni karena ngebet kawin... (udah kayak kucing aja)
Si Ika ini tanpa ngasi kesempatan persiapan, dia udah duluan heboh!

Ika: Mas...! Katanya rumah sini angker toh??!!!!
Aku: Hah???? (Bingung Beneran)
Ika: Iya to Mas??!! (mukanya beneran panik, makin bingung lah aku)
Aku: Apaan sih? Angker? Dapet cerita dari mana??
Ika: Iya. Katanya pembantu yang dulu pernah kerasukan gitu terus teriak-teriak kayak orang gila, lari-lari sampe masuk halaman rumah tetangga, terus marah-marahin orang yang lewat, terus juga marah-marah ke satpam kompleks???!!!!
Aku: (WTF!!???) Hah????? Itu pasti si Isti ya? (alumni asisten ku yang lain)
Ika: Katanya gitu mas,,
Aku: Ya elah... Itu mah si Istinya yang emang bawaan lahir begitu! Kalo dia sakit panas tu mpe kejang-kejang terus kayak orang kalap begitu! Mba nya sendiri aja waktu ke rumah njengukin Isti juga bilang gitu...
Ika: Iya to?
Aku: Iye... Seumur-umur aku jungkir balik di rumah ini juga aman! sehat! tetep gantengnya ga ilang, malah nambah! (udah kagak ngerti gimana cara ngeyakinin asisten yang satu ini. masak kudu cari asisten baru gara-gara parno ama cerita ngelantur begitu!)
Ika: oh...
Aku: Ini siapa yang nyebar gosip kagak bertanggung jawab kayak gini sih??! (mulai sewot)
Ika: (Diinisialkan aja ya, Mulan Jamiludin --> jadinya MJ) Mba MJ depan rumah, Mas
Aku: Grrr....!!!!


Kurang ajar kaleeeee....
Kagak tau repotnya nyari pembantu hari gini ya....
Niatnya pasti supaya pembantu ku keluar terus aku sengsara kagak ada pembantu yang ngurus rumah, sementara tiap hari rumah kayak kapal pecah gara-gara dipake anak-anak monyet (baca: temen-temen kampus) buat garap tugas!
Tega!
Tega!
Tega!

Tu si Mulan Jamiludin telah menghancurkan image nya di benakku yang menganggap dia adalah cerminan ibu-ibu muda ber-hot pants di pagi hari sambil main sama anak balitanya sembari memamerkan tato kupu-kupu di bawah punggunnya (yang tatoan bukan anaknya lho),,
ANCUR!!!
Yang ada sekarang EMOSI!!!
Very very very very very annoying neighbour!!!
beware of my dog! he'll bite your butt like a bunch of meat!


Nantikan pembalasan Yoga si ksatria bermotor mio!
Kapan-kapan, tengah malem aku bakal nyetel winamp, volume maximum, playlist deathmetal, sekalian aku ikutan nyanyi mpe kedengeran ke rumah nya si Jamiludin mpe anaknya nangis gara-gara kupingnya berdarah!!

HAHAHAHAHAHA
(Ketawa Mbah Surip) !

Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Pada Kota

KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU PADA KOTA

Di tengah sibuknya aktivitas masyarakat dan kepadatan bangunan-bangunan di sebuah kota, ruang terbuka hijau (RTH) mulai terlupakan oleh pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Dibandingkan dengan jumlah lahan untuk bangunan keras, RTH yang merupakan penyeimbang bagi sebuah kota jumlahnya sangat minim, terutama di kota-kota besar. Padahal, RTH pada sebuah kota luasnya minimal 30% - 40% dari luas wilayah kota tersebut. Ruang terbuka hijau (RTH) itu sendiri adalah ruang terbuka yang ditumbuhi oleh tumbuhan dan vegetasi berkayu di wilayah perkotaan dan berfungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan sebesar-besarnya dan bermanfaat bagi penduduk kota (Frick dan Mulyani, 2006: 95).


Terus meningkatnya tingkat kepadatan penduduk berbanding terbalik dengan jumlah ketersediaan lahan. Masalah ketersediaan lahan ini pun menjadi salah satu kendala dibangunnya RTH baru. Padahal dengan jumlah penduduk yang tinggi pada suatu wilayah, maka diperlukan jumlah RTH yang memadai bagi masyarakat itu sendiri. Sedangkan faktanya, masyarakat banyak beraktifitas menggunakan bahan bakar dalam transportasinya, dan menghasilkan karbondioksida yang menjadi penyebab adanya pemanasan global yang terjadi sekarang ini. Dalam hal pemenuhan lahan untuk pemukiman dilakukan dengan pembangunan vertikal sehingga mengurangi penggunaan lahan. Menurut Joga dan Antar (2007: 161), “relokasi pemukiman liar dan refungsionalisasi kawasan bantaran kali, bantaran rel kereta api, di bawah tegangan tinggi, dan di bawah jalan layang akan menyediakan RTH yang lumayan besar.” Hal-hal yang menjadi penyebab gagalnya perencana dalam merencanakan suatu RTH menurut Irwan (1997: 7) adalah:
1. Pertambahan penduduk yang cepat sekali.
2. Perencanaannya yang tidak matang dan selalu ketinggalan.
3. Persepsipara perancang dan pelaksana belum sama dan belum berkembang.
4. Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan perencanaan.
5. Kebutuhan yang sangat mendesak.
6. Wawasan diantara para perencana yang belum berwaasan lingkungan, dengan pandangan yang tidak jauh kedepan.


RTH merupakan suatu unsur yang sangat penting pada sebuah kota. Bila unsur tersebut kurang dan tidak terpenuhi, maka tidak sedikit masalah yang akan muncul pada kota tersebut. Kota akan terasa panas, bencana alam yang semakin parah dan sering terjadi, polusi udara semakin meningkat dan masih banyak masalah lain. Karena pada dasarnya RTH memiliki banyak manfaat yang memberi keuntungan bagi masyarakat kota itu sendiri. Antara lain sebagai paru-paru kota, menyerap panas dan memberikan hawa lingkungan yang sejuk, nyaman dan segar menanggulangi berbagai macam masalah lingkungan, mengurangi polusi udara, air, dan suara, memberikan nilai estetika pada kota itu sendiri, membentuk habitat untuk berbagai jenis burung dan jenis satwa atau flora lainnya, sebagai sarana edukasi dan rekreasi.


Wujud dari RTH cukup banyak. Contoh nyatanya adalah hutan kota, taman kota, lapangan olahraga, pemakaman umum, jalur hijau jalan dan lain-lain. Semua contoh di atas menunjukkan bahwa RTH itu merupakan sarana-sarana bagi publik. Sarana publik tersebut terdiri dari sarana pasif yang tertutup aksesnya bagi masyarakat, dan sarana aktif yang memang diperuntukkan bagi masyarakat umum. Pada intinya, RTH merupakan suatu hal yang vital bagi sebuah kota dan masyarakat kota tersebut. Karena RTH dibuat demi kepentingan semua masyarakat. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak perduli terhadap alam dan lingkungan sekitar.


Daftar Pustaka:

Frick, Heinz dan Tri Hesti Mulyani. 2006. Arsitektur Ekologis. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
Irwan, Zoer’aini Djamal. 1997. Tantangan Lingkungan dan Lansekap Hutan Kota.
Jakarta: Cides.
Joga, Nirwono dan Yori Antar. 2007. Komedi Lenong Satire Ruang Terbuka Hijau.
Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama



Written By: I Nyoman Tri Prayoga, 18 May 2008

Spirit of Place Kawasan Gombel, Semarang

Pendahuluan

Review tentang Spirit of Place ini berkaitan dengan teori place yang berisi tentang pemahaman karakteristik budaya dan manusia dalam ruangan dalam hal tata ruang. Kemudian juga perlu memahami keterkaitan solid dan void, serta linkage. Dari hal tersebut, maka dapat didapatkan pergerakan (aktivitas), pemahaman sejarah, nilai-nilai sosial-budaya masyarakat, serta bentuk fisik dari ruang tersebut.

Spirit of place bertujuan untuk mengidentifikasi karakter fisik serta karakter non fisik dari suatu kawasan atau sebuah kota. Karakter fisik adalah penampilan fisik dari sebuah kota yang dibentuk oleh komposisi massa bangunan dan ruang landscape. Hal ini berkaitan dengan lima elemen citra kota, yaitu Path/Direction, Distcrits/Area, Edges/Territorial Boundary, Landmark & Nodes, Townscape atau kualitas estetika. Sedangkan karakter non fisik suatu kota berkaitan dengan makna atau simbol. Makna atau simbol merupakan karakter yang memakai hubungan antara manusia dengan kondisi sosial budaya, kepercayaan, serta norma-norma mendasar yang mendarah daging pada masyarakat setempat. Selain itu juga digunakan sebagai dasar dalam membentuk lingkungan fisik kota.

Dalam pembahasannya, Spirit of Place juga berisi tentang sosial ekonomi budaya pembentuk karakter kota. Pembentukan suatu lingkungan pasti tidak akan bisa pernah lepas dari faktor sosial, ekonomi, maupun budaya. Seperti Rapoport yang menjelaskan bahwa faktor-faktor pembentuk lingkungan permukiman dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu faktor primer (socio culture factors) dan faktor sekunder (modifying factors).

Pembahasan

Secara adat tradisional, nama “Gombel” muncul sewaktu Kiai Pandan Aran berziarah makam di Gunung Jabalkat. Dia melewati tanjakan tersebut dan entah bagaimana ceritanya orang-orang menamainya seperti itu. Saat itu tanjakan Gombel konon sulit untuk dilewati karena permukaannya yang berbukit tersebut. Sampai saat ini belum ada petunjuk yang menjelaskan sebab adanya nama Gombel yang dipilih. Sejumlah pakar sejarah yang ada di Semarang juga banyak yang tidak tahu akan hal ini.
Saat zaman penjajahan dulu, seorang Doktor Belanda, Dr.W.T.de Vogel mengusulkan pada pemerintah Belanda untuk mengembangkan daerah Semarang Selatan. Karena pada saat itu yang dikembangkan oleh Belanda hanya daerah utara dan sekitarnya saja, sedangkan daerah selatan adalah daerah perbukitan yang kurang terjamah. Namun rencana pengembangan itu sempat ditentang oleh masyarakat asli Tionghoa. Hal ini disebabkan oleh daerah Semarang Selatan saat itu banyak dipakai sebagai area kuburan pengganti area kuburan Pekojan. Sedangkan di adat Cina, memindahkan jenazah bukanlah hal yang bisa seenaknya dilakukan. Kemudian seorang Belanda, Mr. Baron van Heeckeren mengusulkan kuburan di daerah Semarang Selatan hanya untuk kerabat dekat yang sudah dikubur di situ. Pada saat ini kawasan tersebut adalah kawasan Kedungmundu.

Pemekaran Semarang Selatan dimulai pada tahun 1909. Hal ini disebabkan oleh permasalahan pemenuhan permukiman. Menurut Thomas Karsten (1914), Semarang Selatan merupakan salah satu kawasan yang terencana. Perencanaan tersebut saat itu digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan & memperbaiki lingkungan permukiman. Saat itu juga, pembagian lingkungan tidak lagi berdasarkan suku, tetapi kelas ekonomi, yaitu tinggi, menengah dan rendah.

Pada tahun 1916, Semarang Selatan mulai berkembang diawali oleh kawasan Candi Baru. Saat itu, permukimannya sangat dipengaruhi oleh arsitektur Eropa. Pada implementasinya, rumah-rumah disesuaikan dengan iklim tropis di Semarang sehingga banyak dibangun taman-taman publik serta taman-taman pada halaman-halaman rumah penduduk.
Pada tahun 1920-an area Bukit Gombel mulai ada perumahan. Letak permukiman disana menyesuaikan kondisi alam yang ada dengan keadaan topografi yg berbukit. Selain itu, pemandangan (view) yang menarik dan indah yang menghadap ke arah laut di sebelah utara sekaligus pemandangan landscape kota Semarang menjadi daya tarik pembangunan permukiman di Gombel.

Namun dari situ timbul dampak negatif dikarenakan ekosistem yang terganggu akibat eksploitasi kawasan. Pada saat hujan daerah Semarang bawah sering banjir sebagai akibat dari air kiriman yang berasal dari Semarang atas, termasuk Gombel. Selain itu, daerah Gombel juga sering terjadi longsor. Sebenarnya longsor di Gombel bukan hal yang baru. Dulu, pada tahun 1929 ruas Jalan Gombel Lama sempat terputus karena adanya longsor tanah di daerah Watugoreh, Gombel. Sebagai tindak lanjut dari masalah terputusnya jalan tersebut, pada tahun 1934 pihak Belanda membuat jalan baru yaitu Jalan Setiabudi. Saat ini ruas tersebut dikenal dengan Jalan Gombel Baru dan memanjang sampai ke daerah ADA Setiabudi. Sejak pembangunan jalan itu, kawasan Gombel Baru mulai ramai dengan permukiman penduduk. Dari situlah asal mulanya Gombel yang terbagi menjadi Gombel Lama dan Gombel Baru yang dipisahkan oleh hutan kecil.

Pada tahun 1950, sudah ada ruas jalan yang sudah dibangun oleh Belanda, yaitu ruas jalan Gombel Baru. Meski saat itu jalanan sudah beraspal, jalan yang dari dulu sudah dilalui bus dan kendaraan umum yang menuju Solo, Yogyakarta atau daerah selatan Semarang lainnya, belumlah selebar sekarang. Bangunan di kanan kiri jalan juga tidak sebanyak saat ini. Taman Tabanas juga belum dibangun.


Di balik keindahan pemandangan di Gombel, terdapat mitos yang berkembang di masyarakat bahwa masalah-masalah yang terjadi di kawasan Gombel berkaitan dengan hal gaib. Penduduk setempat percaya bahwa ada wewe gombel (hantu perempuan) dan makhluk penunggu bukit. Saat ada bencana longsor ataupun kecelakaan, makhluk-makhluk tersebut sedang marah akibat daerah pertapaannya diganggu. Konon di tanjakan Gombel ini sering terlihat wewe yang menggoda pengemudi kendaraan yang melintas. Pada masa lalu, di tanjakan ini memang sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang menelan korban jiwa maupun luka-luka. Kalau ada kecelakaan lalu lintas, maka penduduk setempat memotong sapi, kemudian kepalanya ditanam di situ.
Kepercayaan adat itu sudah mulai kurang terdengar namun masih bayak yang percaya.
Selain itu, di perbukitan Gombel juga terdapat bekas kuburan China. Kuburan tersebut terletak di tengah hutan yang ada di Gombel. Bukti pernah adanya kuburan disana adalah terdapat inskripsi (batu nisan) sekitar 30 cm x 40 cm yang didirikan untuk menenangkan arwah korban kecelakaan massal rombongan pengantin dari Solo yang terjadi pada tahun 1960-an. Sampai sekarang, banyak warga etnis Tionghoa yang mendatangi inskripsi Gombel untuk melakukan sembahyangan. Itu utamanya dilakukan pada bulan ketujuh Imlek (Jit Gwee), bulan di saat warga Tionghoa mendoakan arwah leluhur mereka.
Namun secara realitas, kawasan Gombel memang dibangun tanpa studi kelayakan di bidang lingkungan oleh para pengembangnya. Berbeda dengan saat Thomas Karsten yang hanya membangun perumahan di daerah yang datar tanpa mengganggu lereng-lereng perbukitan yang seharusnya dikonservasi. Karsten juga mempertimbangkan adanya saluran-saluran air dari curah hujan serta aliran sungai. Caranya adalah dengan menyediakan lahan terbuka atau pekarangan yang luas pada permukiman agar lahan disana tetap bisa menyerap air hujan. Namun alasan pemenuhan kebutuhan perumahan yang mengejar kenyamanan, view indah dan eksklusif, serta bebas dari banjir selalu dikedepankan untuk tetap mengeksploitasi kawasan Gombel.

Saat ini kawasan Gombel Baru dipadati oleh kawasan permukiman elite seperti perumahan Bukit Sari, perumahan Gombel Permai, dan belasan pengembang lain hiruk-pikuk membuka kawasan berbukit-bukit dan terjal itu. Sejumlah restoran dan hotel pun menghias sisi lereng Gombel Baru, seperti Restoran Gombel Indah, Restoran Mutiara, Restoran Alamanda, Restoran Alam Indah, Hotel Alam Indah, Nyata Plaza, dan Bukit Asri. Di Gombel Baru juga didirikan sebuah tugu yang terkenal dengan nama Tugu Tabanas denan tamannya yang bernama Taman Tabanas. Sedangkan kawasan Gombel Lama yang juga memiliki tempat lapangan golf, relatif lebih sepi. Di sepanjang ruas jalan Gombel Lama dipenuhi oleh perumahan kelas kebawah di kanan kirinya. Hal ini berbanding terbalik dengan yang ada di Gombel Baru. Dulu di perbukitan Gombel juga sempat terdapat hotel Sky Garden, namun hotel tersebut bangkrut dan adanya Wewe Gombel disangkutkan dengan kebangkrutan hotel tersebut.


Bukit Gombel sekarang tercatat sebagai tanah tertinggi di Kota Semarang. Hal tersebut membuat kawasan Gombel saat ini juga menjadi pusat tower-tower pemancar jasa telekomunikasi, radio, dan TV. Hal tersebut disebabkan karena letak Gombel yang memang sangat pas untuk didirikan menara-menara tadi. Pada dasarnya sifat gelombang elektromagnetik berjalan lurus. Gelombang itu bisa memantul atau berbelok jika menemui halangan, misalnya gedung tinggi. Maka dari itu, Gombel menjadi tempat yang pas dan juga dikenal sebagai hutan tower.

Identifikasi
- Karakter Fisik:
o Karakter fisik dari Gombel adalah perbukitan. Terdapat massa bangunan seperti bangunan-bangunan permukiman, hotel, restoran, tower-tower pemancar, dan SPBU. Selain itu juga terdapat hutan kota di tengah-tengah Gombel. Topografi Gombel yang berupa tanjakan juga berpengaruh dalam pola massa bangunan yang ada disana.

§ Path: jalur tanjakan Gombel, dari setelah pasar Jatingaleh sampai ke pertigaan Bukit Sari. Terdapat jalur Gombel Lama dan Gombel Baru
§ Districts: kawasan Gombel itu sendiri
§ Edges: tepian tebing di perumahan, hutan sebagai pembatas Gombel Lama dan Gombel Baru
§ Landmark: Tugu Tabanas, Alam Indah Hotel & Resto
§ Nodes: Taman Tabanas

- Karakter Non Fisik:
o Masih terdapat kepercayaan, bencana alam dan kecelakaan yang terjadi di sekitar Gombel berkaitan dengan hal mistis, yaitu Wewe Gombel yang ada disana yang meminta tumbal.
o Adanya bekas kuburan Cina di kawasan Gombel juga mempengaruhi pola pertumbuhan permukiman disana. Masyarakat tidak berani bermukim di lahan yang mengganggu bekas kuburan disana.

Faktor pembentuk:
- Faktor Primer (socio culture factors):
o Kepercayaan penduduk setempat tentang adanya makhluk halus Wewe Gombel termasuk faktor sosial budaya yang membentuk fisik hunian disana. Masih banyak warga etnis Tionghoa yang mendatangi inskripsi Gombel untuk melakukan sembahyangan mendoakan arwah leluhur mereka.

- Faktor Sekunder (modifying factors):
o Semakin banyaknya kebutuhan lahan untuk permukiman saat zaman Belanda pada tahun 1920-an membuat pemerintah Belanda mengeksploitasi bukit Gombel. Namun saat itu perencana dari Belanda menggunakan perencanaan yang menyesuaikan dengan topografi disana.
o Adanya permukiman yang mulai menjamur disana membuat investor mengembangkan kawasan tersebut dengan mendirikan perhotelan, restoran.
o Gombel sebagai tanah tertinggi di kota Semarang membuat kawasan Gombel dipenuhi oleh tower pemancar.

Written By: I Nyoman Tri Prayoga, 27 October 2008

Kebingungan Anak Planologi...


Rasanya tak perlu basa-basi mau ngomong, "aduh... udah lama banget ga posting ya... bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla
*BLAH*.... BASI...
haha

enough with the stupid opening joke...

Let's start the topic, which is....
dung dung tek dung dung tek jeng jeng jeng jererererejeng!!!!
"Kebingungan Anak Planologi"

Narsis dikit ya... Saya kan seorang mahasiswa jurusan perencanaan wilayah dan kota fakultas teknik univerisitas diponegoro...
Cie cie cie...
hhaaa... ya gitu, nama lainnya ya Planologi itu...
Mau tau ngga?
Planologi UNDIP itu... tugasnya buuuuaaaaannnyaaaaaak buuuuaaaangeeeettt!! (biar manteb!)
Ngalah-ngalahin banyaknya bulu dadanya Ridho Roma mungkin... (hoek...)
Dan ini terjadi di SEMESTER 4!

Tiap hari tu ya, dari mulai buka mata mpe mau tidur (itupun kalo emang sempet), yang diadepin cuma tugas..! tugas individu lah, tugas kelompok lah, tugas praktikum lah, tugas review lah, tugas mengibarkan bendera lah (lah yang ini ngaco bos!)
Betapa tugas-tugas tersebut telah dengan sangat saya hargai karena membantu saya untuk menurunkan berat badan dengan amat sukses sampe-sampe dibilang kayak orang baru keluar RS habis di opname tifus...
*sigh...*

Tiap ditelpon mama di Jakarta kayak gini ceritanya,

*gayanya lagi ditelpon*







*Senin
Mama: Lagi ngapain?
Yoga: Ngerjain tugas ni sama temen2 di rumah

*Selasa
Mama: Di rumah Ga? Lagi ngapain?
Yoga: Ngga, lagi di kos temen, ngerjain tugas kelompok...

*Rabu
Mama: Yoga, ntar tolong itu kakaknya dibantuin bayar-bayar tagihan listrik, dll
Yoga: Aduh... Ga sempet Ma... Lagi garap tugas ni...

*Kamis
Mama: Udah makan, Ga?
Yoga: Belum, ntar deh... masih nyelesein tugas ma temen-temen nih...

*Jumat
Mama: Ga...
Yoga: Bentar bentar Ma, lagi ribet banget nih tugasnya..


*Sabtu
Mama: Lagi ngerjain tugas?
Yoga: Iya
Mama: Tiap ditelpon jawabannya ngerjain tugas terus!!?? #$%$@#! (mulai sewot sendiri)
Yoga: Lah gimana dong????!!!

*Minggu
(kagak ditelpon lagi... berlanjut sampe sekarang... huhuhuhuhuhuhu)

Parah ya... alesannya mama supaya ga ngeganggu aku bikin tugas-tugas maha mulia itu!!??
*buset....*
Nah, itu kejadian selama pas ribet-ribetnya tugas dan deadline nya yang bener-bener ngga bersahabat sama sekali! *rawr!!!*

Yang lucu... sebagai salah satu mahasiswa rajin nan teladan (rajin telat dan teladan untuk tetap niat berangkat), adalah saat tugas-tugas tersebut mulai terselesaikan satu persatu....
Aku bingung...
Mau ngapain aku!!!????
Koq kagak ada tugas yang mesti dikerjain???
Berasa kayak ngga ngejalanin hari
Berasa hampa
Hahaha

Bego ya,, ada tugas banyak isinya ngumpat-ngumpat setengah mati. Begitu tugasnya pada kelar malah bingung sendiri nyari kerjaan...

Itulah mental yang terbentuk sebagai mahasiswa Planologi UNDIP...
Mental pemuda yang haus akan kerja keras dan motivasi untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik dan tepat waktu!

PLANOLOGI JAYA!!





PENGARUH ADAT BALI TERHADAP LINGKUNGAN ALAM

Desa Adat di Bali

Desa adat di Bali disebut dengan istilah desa pakraman, dengan pihak desa yang diwakili oleh sistem kepengurusan prajuru, sedangkan anggota dari desa adat disebut sebagai krama. Memiliki landasan konsepsi Tri Hita Karana yang menuntun manusia Bali untuk bijak dalam mengelola alam dan lingkungan. Masyarakat yang benar-benar Bali asli disebut sebagai Bali Aga. Dalam sistem desa adat, penduduk asli disebut sebagai karma nuwed, sedangkan kaum pendatang disebut sebagai krama tarmiu


Menurut Adiyoga(2002), suatu komunitas tradisional di Bali dapat disebut sebagai suatu desa adat apabila memenuhi ciri-ciri sebagai berikut :
Desa Adat biasanya mempunyai batas-batas geografis yang jelas, yang umumnya berupa batasan alam seperti sungai, hutan, jurang, bukit dan pantai ataupun batas buatan seperti tembok penyengker.
Mempunyai anggota atau krama yang jelas, dengan persyaratan tertentu dan sebagian besar krama desa adat berdomisili di wilayah desa adat bersangkutan.
Mempunyai kahyangan tiga atau kahyangan desa, atau pura lain yang mempunyai fungsi dan peranan sama dengan kahyangan tiga.
Mempunyai otonomi, baik keluar maupun kedalam. Otonomi kedalam berarti kebebasan atau kekuasaan untuk mengatur rumah tangganya sendiri, sedangkan otonomi keluar diartikan sebagai kebebasan untuk mengadakan kontak langsung dengan institusi diluar desa adat.
Mempunyai suatu pemerintahan adat, dengan kepengurusan (prajuru adat) sendiri yang berlandaskan kepada peraturan-peraturannya sendiri (awig-awig), baik tertulis maupun tidak tertulis.
Adanya catur dresta (empat aturan) yang melandasi adat istiadat Bali menyebabkan terjadinya variasi yang sangat besar antar Desa Adat di Bali.

Desa adat di Bali seringkali sekaligus menjadi salah satu tujuan wisata karena keunikan perpaduan antara tradisional dan modern. Mata pencaharian penduduk setempat antara lain dari pertanian, perikanan, dan pariwisata. Contoh desa adat di Bali antara lain Desa Tenganan di Kab. Karangasem, Desa Trunyan di Kab. Bangli, Desa Penglipuran, dan desa-desa lainnya.
Degradasi Apresiasi Masyarakat Desa Adat di Tengah Modernisasi Lingkungan
Desa adat di Bali bisa menjadi contoh hubungan yang selaras antara komponen-komponen lingkungan, yaitu komponen biotik, abiotik, dan kultural. Biosentrisme merupakan paham yang menganggap setiap kehidupan dan makhluk hidup memiliki nilai dan berharga pada dirinya sendiri dan perlu diperlakukan secara moral tanpa mengingat apakah memiliki nilai bagi manusia atau tidak. Sedangkan ekosentrisme adalah paham perkembangan dari biosentrisme. Pada ekosentrisme, etika lingkungan diperluas mencakup keseluruhan komunitas ekologis. Ekosentrisme memperhatikan seluruh aspek lingkungan baik biotis maupun abiotis karena semuanya saling terkait satu sama lain. Dari teori tersebut, muncul istilah Deep Ecology yang berisi tentang suatu etika yang berpusat pada keterkaitan makhluk hidup seluruhnya dan semua komponen ekologis untuk mengatasi masalah lingkungan hidup dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang.
Sebenarnya, dari dulu masyarakat adat merupakan contoh dari penerapan paham biosentrisme dan ekosentrisme atau deep ecology. Menurut Keraf (2002: 282), pada dasarnya masyarakat adat memandang dirinya, alam dan relasi di antara keduanya dalam perspektif religious, perspektif spiritual. Dari pemahaman tersebut, masyarakat adat menganggap alam sebagai sesuatu yang sakral. Mereka ingin menciptakan keselarasan hubungan antara manusia dengan alam karena hal tersebut merupakan nilai yang sangat penting dalam hubungan kosmis. Mereka memahami bahwa ada hubungan saling ketergantungan antara mereka dengan alam.
Berbekal paham yang dimiliki masyarakat adat tersebut, mereka secara natural memiliki tuntutan moralitas terhadap alam. Bagi mereka, sikap hormat terhadap sesama manusia dan alam merupakan hokum moral kehidupan. Mereka meyakini bahwa perlakuan yang salah terhadap alam akan merusak hubungan manusia dengan alam. Kesalahan semacam itu diyakini akan menyebabkan malapetaka seperti bencana alam. Biasanya akan diadakan upacara adat sebagai permintaan maaf terhadap alam.
Dari adanya pandangan sakral terhadap alam tersebut, ada keadaan yang membuat masyarakat setempat ragu-ragu bahkan takut untuk memanfaatkan lingkungan. Padahal sebenarnya masyarakat bisa memanfaatkan sumber daya yang disediakan oleh alam untuk mendukung kehidupan mereka. Pemanfaatan tersebut tentu saja dalam batas ambang (threshold) tertentu yang tidak merusak ekosistem.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Di zaman yang serba modern dan sekarang ini, masih terdapat desa adat di Bali yang memiliki peran penting terhadap lingkungan alam. Desa adat tersebut masih memiliki adat tradisional yang mempertahankan aturan-aturan setempat untuk hidup berdampingan dengan alam. Ketradisionalan tersebut menjadi sebuah pola hidup kultural yang memandang alam sebagai sesuatu yang memiliki nilai untuk dihargai dan dihormati keberadaannya.
Banyak pengaruh dan nilai yang dimiliki oleh desa adat di Bali terhadap lingkungan alam. Antara lain adalah berkaitan dengan paham biosentrisme dan ekosentrisme yang mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Paham ini sangat ideal karena alam merupakan sesuatu yang memiliki nilai tinggi dan tidak boleh diperlakukan sembarangan. Selain itu, nilai yang masuk dalam konteks perencanaan wilayah dan kota, yaitu fungsi desa adat sebagai sebagai lokasi wisata. Fungsi pariwisata ini menguntungkan pemda setempat berkaitan dengan retribusi yang diperoleh, selain itu juga bisa memperkenalkan Bali lebih luas ke mata luar. Namun nilai ini perlu dijaga kondisinya berkaitan dengan masalah-masalah lingkungan yang bisa diakibatkan oleh kegiatan pariwisata.
Pada perkembangannya di zaman modern ini, desa adat juga menghadapi berbagai masalah. Masalah yang paling nyata adalah benturan kepentingan dengan para investor yang ingin menjadikan desa-desa adat dan wilayahnya sebagai kawasan pariwisata. Kepentingan tersebut seringkali tidak diiringi dengan perlindungan terhadap kondisi alam disana dan cenderung tidak memperhatikan AMDAL.
Rekomendasinya adalah diiharapkan terjadi kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan investor untuk menjaga kondisi alam di Bali. Peraturan yang tegas dari pemerintah perlu ditekankan sehingga tidak ada masalah lingkungan yang terjadi kedepannya. Peraturan yang diciptakan ditujukan baik kepada swasta maupun masyarakat, bahkan pemerintah itu sendiri. Selain itu desa adat juga diharapkan menjadi pilar pertahanan alam di era modernisasi ini dan tidak justru ikut arus yang mengakibatkan degradasi lingkungan. Peningkatan kesadaran paham biosentrisme dan ekosentrisme dirasa sangat baik bagi masyarakat sebagai pelaku utama interaksi dengan alam.